Saturday, August 15, 2020

5 Hal Pemicu Stres di Masa Pandemi Virus Corona. Bagaimana Mengatasinya?

Assalamualaikum, hai iriters bagaimana kabar setelah sekitar 5 bulan kebanyakan #dirumahaja di masa pandemi seperti sekarang ini?

Selain menimbulkan masalah kesehatan fisik, pandemi covid 19 ini ternyata juga menimbulkan masalah psikis yaitu stres. Menurut pengamatan emaketidaknya ada 5 hal pemicu stres di masa pandemi virus corona. Kita harus mengetahui dan menyadarinya agar kemudian bisa tahu bagaimana cara mengatasinya. 

1. Kecemasan akan kesehatan fisik. Tentu saja, banyak orang mempunyai kekhawatiran, bagaimana jika saya terkena virus ini? Apalagi beredar banyak informasi dari yang akurat sampai yang hoax mengenai virus ini. Ada informasi yang menyebabkan timbul ketakutan berlebihan, namun sebaliknya ada pula info yang membuat kita menjadi abai akan virus ini.  

Joseph McGuire, Ph.D., M.A. psikolog anak dari Johns Hopkins Medicine Amerika Serikat (AS) yang saya kutip dari Halodoc, memberi saran mengenai hal ini. Menurutnya, untuk menghindari diri dari kegelisahan atau stres akibat berita atau informasi hoaks dan negatif, gunakanlah sumber-sumber yang bisa dipercaya.


Untuk warga AS, ia merekomendasikan situs Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Nah, di Indonesia, selain kita bisa menggunakan sumber-sumber dari WHO, kita juga bisa menyimak informasi dari  situs resmi dari Kementerian Kesehatan (Kemkes) RI, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB, covid19.go.id). Situs-situs kesehatan terpercaya seperti halodoc juga bisa menjadi rujukan lho.

Di Halodoc, selain banyak terdapat artikel kesehatan kita juga bisa konsultasi langsung dengan dokter via chat, mulai dari dokter umum sampai dokter spesialis ada. Bahkan membeli obat maupun vitamin bisa dilakukan melalui aplikasi tersebut, tanpa harus keluar rumah, tinggal pesan dan duduk manis di rumah menunggu pesanan datang.

2. Stres karena kurangnya interaksi sosial. Terlalu lama #dirumahaja bisa membuat stres juga lho, karena dengan begini akan banyak mengurangi interaksi sosial kita. Yaa meskipun interaksi bisa dilakukan jarak jauh dengan fasilitas gadget, akan tetapi ada hal-hal yang tidak bisa tergantikan oleh interaksi secara langsung. Meskipun di era pandemi, ngga ada salahnya kok kita sesaat keluar rumah menyapa tetangga, yang kebetulan ada di depan rumahnya, mengobrol sebentar. Tentu saja dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan, yaitu menggunakan masker dan menjaga jarak. Terbukti saya selalu merasa lebih baik setelah mengobrol langsung dengan orang lain, karena interaksi sosial juga merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Apalagi wanita yang katanya butuh mengeluarkan 20ribu kata perhari.



3. Cemas memikirkan kondisi finansial. Cukup banyak orang yang terdampak secara finansial di era pandemi ini. Entah itu pengurangan gaji, karena perusahaan mengalami penurunan pemasukan sampai di PHK. Bagi kita yang masih di posisi aman pun tak jarang kecemasan menghampiri, bagaimana jika selanjutnya giliran saya yang terdampak? Kecemasan yang wajar, namun kita harus tetap berusaha berpikiran positif. Karena pukiran negatf tidak akan mengubah segalanya menjadi lebh baik, justru sebaliknya. Kondisi tubuh bisa jadi menurun karena kebanyakan pikiran. tentu akan berdampak dengan produktivitas kerja. Jangan-jangan kita bukannya di PHK karena perusahaan terdampak covid tapi karena produktivitas kita yang menurun. Gunakan uang secara bijak, hindari pengeluaran yang tidak terlalu perlu, merupakan hal-hal yang bisa kita lakukan untuk mengurangi kecemasan akan kondisi finansial.


4. Stres karena harus bekerja dari rumah. Dulu kita membayangkan bisa bekerja di rumah merupakan hal yang mengasyikkan. Tapi ternyata, banyak orang yang justru mengalami stres bekerja di rumah. Faktornya, karena tidak bisa konsentrasi penuh dan sarana prasarana juga kurang memadai di rumah. Tapi ya mau bagaimana lagi jika kondisi memaksa demikian, cobalah fokus ke dampak positif bukan negatifnya. Dengan bekerja di rumah kita lebih menghemat waktu karena tidak perlu berlama-lama ada di jalan menuju kantor, lebih menghemat tenaga, dan bisa punya waktu lebih lama untuk keluarga. Buatlah kesepakatan dengan anggota keluarga untuk memberikan ruang dan waktu Anda bekerja. Misal dari jam 9 sampai jam 5 anak-anak diminta tidak memasuki ruang kerja, agar Anda bisa lebih konsentrasi saat bekerja.


5. Stres mendampingi anak-anak pembelajaran jarak jauh. Mana nih emak-emak yang darting alias darah tinggi ngadepin daring? Yang biasanya tiap weekday bisa leyeh-leyeh dari pagi sampai siang, kini harus menguras otak dan tenaga ya mak. Banyak orang tua terutama ibu-ibu yang mengeluhkan hal ini, karena dengan belajar di rumah, anak sulit untuk disiplin, Belum lagi orang tua juga harus membantu anak menyelesaikan tugas jikalau daa yang kurang dipahami. Sabar ya maak, sabar... Coba deh buat kesepakatan dengan anak, mengenai jam belajar mereka. Berikan anak reward jika bisa menyelesaikan tugas dengan baik. Bisa berupa makanan kegemarannya, atau diperkenankan menonton dengan tetap didampingi tentunya selama 15-30 menit, misalnya.

Nah itulah 5 hal yang mungkin bisa memicu stres di masa pandemi ini. Dari kelima hal itu mana yang paling membuat kamu cemas iriters dan apakah kamu sudah mampu mengatasinya? Cerita yuk di kolom komentar.

10 comments:

  1. Yuni termasuk salah satu karyawan yang terdampak covid ini. Dan memang, andai nggak ditanggapi dengan pemikiran yang positif tentu akan memicu stress.

    Ujung-ujungnya malah bikin kondisi kita drop. Mudah terserang penyakit.

    Duh serem nggak sih, Mak.

    Jadi, mari sikapi pemicu stress itu dengan selalu berprasangka baik. Kemudian berharap semua akan baik-baik saja.

    Aamiin Ya Rabb.

    ReplyDelete
  2. Aku cemas di nomer 1, kesehatan fisik suami terutama awal pandemi dulu. Jadi aku lampiaskan beli biji sayuran, nanam apa aja yang bisa ditanam di pot. Mayan deh kalo lagi jenuh banget atau cemas gitu, pilih bongkar isi pot dan isi media tanam yang baru. Pikiran jadi fresh lagi, hati pun tenang

    ReplyDelete
  3. Banyak si yg kucemaskan gegara corona ni. Kesehatan kami sekeluarga apalagi aku asma jd ngeri aja klo sampe kena corona (naudzubillah). Belum lg mikirin pemaskukan yg jd ga tentu krn dunia usaha pun lesu blm lagi sekolah daringnya anak2. Sebisa mungkin selalu postivie thinking dan banyak2 bersyukur aja. Semohow semua ni pasti ada hikmah besarnya

    ReplyDelete
  4. Nah..kelima hal ini yg harus kita hindari agar terhindar dari stres di masa pandemi. Terima kasih yaa.. Oya, aku termasuk yg setuju bhw hati senang adalah salah satu upaya meningkatkan imunnitas tubuh..hehe..

    ReplyDelete
  5. Kerja dari rumah emang lebih berat karena lebih banyak pengalih perhatian...dari nyuapin anak, masak, buang sampah, ngepel, ngelonin dan masih bnayak lagi...

    ReplyDelete
  6. Aku stress kurang interaksi sosial Mak wkwkkw
    soalnya biasa kemana-mana sekarang nyungsep aja jadi kurang membaur
    Semoga pandemi lekas pergi ya. Aaamiin.

    ReplyDelete
  7. Kalau aku kok nomer 5 ya hahahaha... soalnya emak ga sabaran sih aku. Kesian nih bocahnya ya lama2 kalau PJJ gini. :) PR banget untuk bisa arrange waktu antara urusin rumah dengan mendampingi belajar

    ReplyDelete
  8. Nomer lima bener banget tuh. Aku sempat setres justru karena itu. Eh tapi mikir kesehatan fisik juga pernah sampai agak parno juga. Bener banget semuanya. Tambahin ah, setres karena nggak bisa piknik hehee

    ReplyDelete
  9. Aku sempat sakit dengan gejala mirip covid-19, Mbak.. dan selama itu aku nggak sekrol2 medsos terutama FB dan twitter biar ga makin panik.

    ReplyDelete
  10. Di antara kelima hal di atas, nomor satu yang paling bikin aku khawatir sih. Tapi seiring berjalannya waktu udah semakin woles. Asal pas keluar sudah berikhtiar sesuai protokol kesehatan, bismillah positive thinking everything will be allright.

    ReplyDelete

Maaf ya iriters karena banyaknya spam yang masuk, semua komen dimoderasi dulu. Terimakasih sudah berkunjung :)