Saturday, May 2, 2020

Pembelajaran Finansial Di Balik Pandemi Virus Corona

Halo iriters, apa kabar. Semoga sehat, kuat, dan masih selalu semangat meski #dirumah aja ya.

Corona oh Corona semua orang membicarakannya. Selain menimbulkan dampak kesehatan, tentu saja, virus korona ini memberi dampak ekonomi yang besar. Dalam sebuah situs berita yang mungkin iriters juga sudah baca, sebanyak lebih dari dua juta pekerja di PHK karena dampak dari virus korona. Bahkan yang terbaru, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) bidang UMKM, Suryani Motik menyebut warga yang menjadi korban pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat pandemi corona (Covid-19) bisa mencapai 15 juta jiwa. Naudzubillahimindzalik.



Selain bagi pekerja, pandemi ini juga pastinya berat bagi pengusaha. Pengusaha yang baik tentu tidak tega memecat karyawan kalau tidak karena terpaksa. Berusaha mati-matian mempertahankan agar perusahaan tetap hidup dan karyawan tetap digaji sebagaimana mestinya.

Dari sini banyak pembelajaran tentang finansial yang bisa kita petik. Cukup ramai di linimasa tentang pekerja bergaji 80 juta perbulan yang menghadapi masalah keuangan setelah di PHK di tengah pandemi ini.

80 juta lho! Bagi kalangan jelata yang bergaji tidak lebih dari 5 juta sebulan pasti akan bilang, wah kalo aku punya gaji segitu, dalam setahun tabunganku hampir semilyar!

Lalu pembelajaran fnansial apa yang bisa kita petik dari adanya virus korona ini?

1. Sebisa mungkin sisihkan uang untuk dana darurat. Dana darurat ini penting di saat-saat seperti ini dimana, mata pencaharian kita terancam atau bahkan sudah tidak bisa diandalkan sama sekali karena bangkrut atau PHK, sambil mencari pekerjaan lain kita masih bisa hidup dengan tenang. Bagaimana agar dapat menyisihkan uang untuk dana darurat? Kesampingkan dulu gaya hidup mewah. Setiap awal bulan atau saat menerima gaji, gunakan terlebih dahulu untuk pengeluaran wajib seperti listrik, air, bpjs, dan pangan. Setelahnya sisihkan untuk dana darurat, jika masih ada kelebihan baru deh boleh buat memenuhi lifestyle, misal nongki-nongki, beli panci baru, dll.

Untuk persentase dana darurat, ngga bisa saklek sih, karena balik lagi tergantung penghasilan dan pengeluaran wajibnya. Ada yang menerapkan rumus 10% buat hidup, 60% buat ditabung, dan 30% buat jaga-jaga. Yang ternyata gajinya di atas 30 juta dan masih single. Lantas netijen komen: Apa kabar yang gajinya 5 juta anak dua, 500 ribu doang buat hidup gituh?

Ada juga yang menerapkan, 50% buat hidup, 30% tabungan, 20% having fun. Jadi enaknya pakai rumus yang mana. Ya seperti yang emak bilang tadi rumus ini ngga bisa saklek diterapkan. Kamu yang menentukan mana yang lebih pas buat kamu.

2. Merencanakan keuangan sedini mungkin. Kebanyakan orang baru melek finansial setelah berkeluarga. Kenapa? Karena pada saat itu kebutuhan mulai banyak sehingga perlu perencanaan yang matang. Yang harus bayar kontrakan lah, cicilan kendaraan, belanja bulanan, tagihan listrik, sampai biaya sekolah anak. Pada saat masih lajang sih nyante Apalagi masih tinggal bareng ortu. Nah dengan adanya pandemi ini, yuk kita belajar dari kesalahan. Kalo kita terlambat melek finansial, anak-anak kita jangan. Sedari kecil dididik untuk mengatur keuangan. Ada yang bilang idealnya dana darurat itu 12x biaya hidup bulanan. Jika kita sudah memulai menyiapkannya semenjak dini, semenjak belum punya tanggungan apa-apa, jadi lebih ringan kan.
3. Jangan Berhutang
Beberapa waktu lalu emak membaca curhatan seseorag di linimasa, gajinya yang semula 20 juta karena pandemi ini dipotong menjadi 10 juta. Wah 10 juta masih lumayan besar kan ya... Akan tetapi, 9,5 juta gajinya sudah habis buat cicilan rumah dan mobil. Sisanya tinggal 500 ribu tentu ngga cukup untuk biaya hidup sehari-hari. Maka ia minta perhatian atau bantuan dari pemerintah.

Tentu saja ini mengundang hujatan dari netijen. Dih gaji masih 10 jeti kok minta bantuan. Emak sendiri ngga tau kebenaran cerita ini, tapi mungkin saja terjadi. Saat gaji kita 20 juta, kita merasa aman punya cicilan hampir separo gaji. Toh separo gajinya lagi kalo dibuat biaya hidup juga masih lebih-lebih. Namun di saat kondisi tak terduga kaya gini jadi kelimpungan sendiri kan.

Oleh karena itu jangan mudah berhutang, apalagi hutang riba. Pikirkan urgensinya. Kalo masih bisa naik kendaraan umum ga usah beli mobil dengan cara kredit. Termasuk kredit panci, sepre, blender, dan segala macamnya. Nominal kelihatannya kecil tapi kalo banyak yang dikredit, atau situasi lagi kaya begini uang segitu berharga banget kan. Hidup tanpa utang, hati menjadi tenang.

3. Menjadi konsumen cerdas. Setelah diumumkan ada dua orang pasien pertama positif corona, masker dan hand sanitizer menjadi langka. Belakangan diikuti dengan kelangkaan sejumlah suplemen vitamin. Kabarnya banyak orang berbondong-bondong memborong alias terjadi panic buying. Bahkan dengan harga tinggipun mereka rela mengeluarkan uang. Ini juga tentu akan mengganggu kondisi keuangan. Padahal membunuh virus juga bisa dilakukan dengan cuci tangan menggunakan sabun. Asupan vitamin tidak harus dari suplemen multivitamin. Jika masih mahal, cari saja buah yang kandungan vitaminnya tinggi namun harganya terjangkau misalnya. Nah oleh sebab itu kita harus melek informasi, jangan mudah termakan isu yang beredar di socmed atau grup-grup whats app tanpa mengkroscek terlebih dahulu.

Emak tiap kali mendapat info pasti akan cari tahu kebenarannya terlebih dahulu. Jika informasi terkait kesehatan misalnya, carilah web kesehatan terpercaya untuk mengetahui validasinya, misalnya halodoc.


Yang emak suka, web halodoc (ada juga aplikasinya) bukan cuma menyajikan artikel kesehatan. Halodoc juga menyediakan layanan chat dokter. Apalagi di masa pandemi virus korona seperti sekarang ini, kita diimbau untuk tidak ke klinik atau rumah sakit kecuali jika kondisi sudah darurat. Layanan chat dokter ini bisa kita gunakan untuk pertolongan pertama jika merasa sakit. 

Di halodoc ada juga ada informasi tentang rumah sakit dan dokter se-Indonesia, bahkan bisa sekalian bikin janji konsul. Kita juga bisa lho membeli obat atau alat kesehatan secara online. Beli obat dari rumah saja, tanpa ngantri tanpa ribet physical distancing, tinggal nunggu kiriman datang.

Jadi hari giniii, informasi terbuka lebar ya iriters, jadilah konsumen cerdas salah satunya dengan tidak mudah terpengaruh dengan isu yang beredar, yang belum tentu kebenarannya.

4. Swasembada pangan dari rumah. Virus korona membuat emak berpikir bahwa penting bagi kita untuk menanam kebutuhan pangan. Kita terlalu sibuk mengumpulkan uang, emas, dan permata, padahal kebutuhan utama kita sesungguhnya adalah pangan. Uang kan bisa dipakai untuk membeli makanan. Iya, kalo masih ada yang jual. Lah kalo nggak? Ini kita berpikir kemungkinan terburuk aja. Toh ngga ada salahnya juga kita menanam, akan membuat bumi menjadi lebih lestari. Lumayan bisa menghemat pengeluaran juga jika bisa menikmati hasil panen tanpa harus membeli lagi. Atau malah bisa sekalian dijual hasilnya.

Nah itulah emak rasa 4 pembelajaran finansial yang bisa kita peroleh dari kejadian pandemi virus korona ini. Moga setelah ini kita bisa lebih melek finansial lagi ya, dan semoga wabah virus korona ini segera berlalu. Aamiin,

No comments:

Post a Comment

Maaf ya iriters karena banyaknya spam yang masuk, semua komen dimoderasi dulu. Terimakasih sudah berkunjung :)