Tuesday, February 18, 2020

Tips Mengajarkan Anak Mengelola Keuangan

Hai iriters, pernah ngga anak kamu merengek minta dibelikan jajan padahal sebelumnya dia sudah jajan dengan nominal yang lumayan. Di lain hari ia meminta dibelikan mainan padahal mainan di rumah sudah banyak. Ketika Mama bilang tidak punya uang, ia dengan mudah mengatakan, kan bisa ambil di ATM, atau, kan bayarnya pakai OVO. Lho mangsamu uang di ATM atau OVO itu terisi dengan sendirinya???

Karena seringkali mengalami kejadian ini, saya lantas merasa perlu mengajarkan mereka cara mengelola keuangan. Supaya mereka tahu mendapatkan sesuatu itu butuh pengorbanan, dan mereka akan berpikir baik-baik sebelum membeli, butuh atau tidak.



Bagaimana cara saya mengajarkan anak mengelola keuangan?

Pertama, berikan anak uang jajan. Karena, kalo ngga diberi uang jajan gimana cara dia mengelola uang? Lha uangnya aja kagak ada kan ya.

Dulunya saya model ortu yang kalo dia mau beli sesuatu, memang butuh, ya sudah saya akan belikan. Secara berkala saya juga memberinya uang buat menabung di sekolahan entah 10 atau 20 ribu. Uang jajan harian hanya untuk yang sekolah SD saja, dikira-kira dia berapa kali istirahat, kira-kira butuh uang berapa untuk beli makanan. Tapi saya pikir lagi, dengan begitu saya tidak melatih dia mengatur keuangan sendiri. Uang jajan dipas-pasin, terus uang tabungan juga saya yang ngasih langsung, jadi bukan dia yang mengatur.

Berapa uang jajan yang diberikan untuk anak?

Kalau saya, memberi uang jajan mingguan kepada anak-anak. Untuk Athifa yang kelas 3 SD saya beri 50ribu seminggu. Biasanya saya bawakan bekal juga kalo pulangnya sampai sore, jadi  jajannya dia sebanyak 2x saat istirahat. Sementara Hana yang TK, karena makanannya udah ada catering sekolah saya beri 20ribu perminggu.

Kenapa saya beri perminggu? Pertama biar ngga ribet aja tiap hari kudu ngasih uang jajan. Lagipula biar mereka bisa belajar ngatur uang yang agak banyakan. Nanti kalau sudah remaja mungkin bisa diberi jatah langsung sebulan.

Nominal uang jajan itu sudah saya perhitungkan, sehari kira-kira anak saya yang SD butuh Rp.5000 buat jajan, dikali 6 hari berarti 30 ribu. Saya lebihkan 20 ribu buat nabung dan lainnya.

Alokasikan uang jajan untuk 4 pos utama

Sama halnya kita orang dewasa yang membuat pos-pos anggaran, anak pun saya ajarkan untuk itu tapi lebih sederhana. Saya bilang pada mereka, uang jajan yang saya beri pada mereka, harus dibagi-bagi yaitu untuk beli jajan di sekolah, menabung, sedekah, dan dana darurat.

Karena sudah diperhitungkan 30 ribu buat beli jajan, maka 10 ribunya dia tabung di sekolahan, 5 ribu buat sodaqoh, dan 5 ribu lagi dia simpan di dompet atau celengan rumah untuk dana darurat. Dana darurat buat apa? Ya misal mau ngasih kado ultah temen, sesekali pengen jajan pas ngga sekolah, dll. Jika dia jajan kurang dari 5ribu sehari berarti dia bisa menyisihkan uang lebih banyak.

Apa Manfaat Mengajarkan Anak Mengelola Keuangan?

Setelah memberi uang jajan mingguan ke anak-anak, tiap mereka ingin sesuatu saya tinggal bilang, "Pakai uang jajanmu."

Kalau pengen beli sesuatu yang agak mahalan ya bisa nabung dulu. Dengan begitu mereka juga jadi mikir kalo mau beli sesuatu, "Ntar uangku habis, ngga usah jajan banyak-banyak deh."

Selain itu juga mengamankan pos-pos pengeluaran kita sendiri, ngga dikit-dikit keluar duit buat beliin anak sesuatu. Karena yang dikit-dikit itu kalo dikumpulin ternyata nominalnya besar juga loh.

Begitu iriters pengalaman saya mengajarkan anak mengelola keuangan. Mungkin ada yang mau share pengalamannya juga, monggo di kolom komen ya....

1 comment:

  1. Aku belum kasih uang jajan buat anak karena di sekolah ngga ada kantin, sesekali saja kasih duit tapi mau coba deh ya biar latihan mengatur uang...

    ReplyDelete

Maaf ya iriters karena banyaknya spam yang masuk, semua komen dimoderasi dulu. Terimakasih sudah berkunjung :)